Esports
Membuat malu! Ini 5 Masalah Penipuan Paling Menggegerkan di Industri Esports

Membuat malu! Ini 5 Masalah Penipuan Paling Menggegerkan di Industri Esports

Posted on

Membuat malu! Ini 5 Masalah Penipuan Paling Menggegerkan di Industri Esports. Dibalik keberhasilan esports, siapa kira industri ini punyai beberapa masalah yang dapat meredupkan perkembangannya. Untuk gamer, kalian tentu punyai harapan jadi olahragawan esports karieronal serta masuk dalam satu team. Ditambah lagi bila masuk dengan team besar yang sudah punyai nama.

Sayangnya, tidak semua dapat berjalan lancar. Beberapa pemain yang perlu sempat merasai fakta pahit dikarenakan ditipu oleh pelaksana kompetisi atau teamnya sendiri. Bukanlah naik profesinya, beberapa olahragawan esports ini malah harus gigit jemari sebab beberapa kasus penipuan itu.

Moniprestamos juga kumpulkan masalah penipuan oleh team esports atau pelaksana kompetisi pada beberapa pemain. Yuk baca berikut ini!

“Kebohongan” ESL untuk Mengatur Visa Pemain Ninjas in Pyjamas

Ikuti satu kompetisi di Jepang, Ninjas in Pyjamas harus menelan fakta pahit yang dikarenakan oleh Visa. Masalahnya team yang berbasiskan di Brasil ini harus kehilangan dua pemain, yakni João “Kamikaze” Gomes serta Julio “JULIO” Giacomelli. Visa ke-2 pemain juga tidak diterima oleh otorisasi Jepang. Tidak itu saja, si pelatih, yakni Arthur “Ar7thur” Schubert juga alami persoalan yang sama.

Permasalahan ini juga ada sebab faksi pelaksana, ESL sudah mundur dari perlakuan visa pemain. Sepuluh hari sebelum hari keberangkatan, faksi pelaksana juga mengubah tanggung jawab pada semasing team yang akan bertanding di tempat Rainbow Six Pro League Season 10. Ini juga bikin rugi NiP untuk dapat memenangi kompetisi itu.

Pemangkasan Upah serta Pemerasan Beberapa Pemain Excelerate Gaming

Salah satunya harapan seorang gamers ialah jadi pemain karieronal serta menguatkan satu team. Tetapi, apa yang terjadi bila pemain tidak memperoleh upah yang semestinya, serta pemain itu diminta untuk tanda-tangani kontrak untuk dapat masuk. Ini juga dirasa oleh pemain Call of Duty pada team Excelerate Gaming pada 2019 kemarin.

Bertanding di tempat Liga Pro CWL semasa 1 minggu, pemilik dari Excelerate Gaming, yakni Justin Tan mengupdate kontrak yang mengatakan, bila pemain harus memberikan 100 % upah dan 25% ongkos tampil di tempat itu. Dari upah yang semestinya dibayar sebesar, 1800 dolar Amerika atau sama dengan Rp26,3 juta, pemain juga cuma dibayar sebesar 213 dolar Amerika atau sama dengan Rp3,1 juta saja.

Pada akhirnya, beberapa pemain juga dibebaskan dari kontrak dari Excelerate Gaming. Justin Tam juga mohon maaf atas kekeliruannya. Mereka juga berusaha untuk buka diskusi yang semakin logis dengan beberapa pemain.

Denial Esports yang Tidak Bayar Upah Beberapa Pemain

Mempunyai riwayat gelap di ranah esports, Daniel Esports tidak bayar upah beberapa pemainnya. Pada 2015 lalu, mereka berhutang sebesar 3000 dolar Amerika pada beberapa pemain Halo. Tidak itu saja, team yang berbasiskan di Amerika Serikat ini tidak dapat bayar upah pemain di seksi League of Legends semasa dua bulan.

Tidak cuma dua seksi itu, dan juga di seksi Melee Super Smash Bros, Overwatch, Paladins, serta CS:GO. Beberapa pemain juga dikelabui sebab harus bayar sewa untuk jaga mereka masih berdiri.

Pada akhirnya pada 2017, Denial Esports juga putuskan untuk melepas semua pemainnya. Satu tahun selanjutnya, team ini juga bangkit kembali dengan manajemen baru serta janji akan melunasi hutang-hutan lamanya. Serta, mereka juga menunjukkan dengan satu bukti pembayaran yang dapat jadi niat baik pada beberapa pemain lamanya.

Cuma bertahan enam bulan, Denial Esports kembali lagi gulung tikar sebab punyai utang sebesar 100 ribu euro dengan pemain CoD-nya. Semasa tiga bulan, pemain juga tidak ada yang digaji. Jika dipadukan seputar 80 ribu euro. Disamping itu, Denial Esports beli slot di tempat CWL Pro League serta belum dibayar sebesar 40 ribu euro.

Uang Hadiah yang Tidak Segera Turun dari GESC Indonesia serta Thailand Minor

Salah satunya pelaksana kompetisi Dota 2 dari Singapura, pada 2018 lalu, GESC mengadakan dua kompetisi di dua negara, yakni Indonesia serta Thailand. Sayangnya, VGJ.Storm serta Evil Geniuses yang menjadi juara tidak terima hadiah sebesar 110 ribu dolar Amerika.

Semenjak masalah ini muncul, Valve juga menarik GESC ke meja hijau. Serta, si penerbit/publisher juga keluarkan surat peringatan pada pelaksana. Hasil dari persidangan, GESC juga harus tetap bayar uang sejumlah 750 dolar Amerika.

GESC tidak cuma mangkir dari pembayaran uang hadiah. Mereka tidak bayar talenta yang isi kompetisi itu, seperti shoutcaster, analis, sampai crew yang bekerja ikut juga terserang dampak.

Perampokan serta Penipuan di Balik Satu Kompetisi CS:GO

Satu kompetisi CS:GO namanya Gaming Paradise, berjalan pada 6—13 September 2015 yang lalu. Tawarkan beberapa hal, dari mulai hadiah yang terkumpul sampai 100 dolar Amerika, fasilitas yang dijamin pelaksana, sampai peluang untuk membaw esports internasional ke kota Portorož. Tempat ini juga diiringi oleh team-team besar dunia, seperti Na’Vi, Virtus.pro, Mouseports, serta lainnya.

Sayangnya, hal tersebut cuma bualan semata-mata. Baru saja berjalan, kompetisi ini malah mempunyai rekam jejak terjelek selama hidup. Masalahnya pada 2012 yang lalu acara ini berekor penipuan di India serta mengambil beberapa barang. Faksi pelaksana juga memberi anggapan bila insiden itu tidak akan berlangsung.

Ticket penerbangan yang semestinya didapatkan beberapa pemain, kenyataannya memang tidak ada. Soalnya, faksi pelaksana menjelaskan bila cuma punyai anggaran 3.000 dolar /hari. Ini juga membuat beberapa peserta harus keluarkan uang dari kantong sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *